“Jika Allah baik dan Dia menciptakan segala sesuatu, mengapa Dia menciptakan kejahatan?” Sebenarnya ada asumsi yang salah dari pertanyaan ini yaitu mengasumsikan bahwa kejahatan adalah sesuatu yang diciptakan, seperti kebaikan yang benar, karena semua yang baik belum tentu benar.
Kejahatan sebenarnya bukan entitas yang diciptakan, melainkan ketiadaan kebaikan—seperti gelap adalah ketiadaan terang. Secara ilmiah, terang adalah energi yang berbentuk gelombang elektromagnetik. Cahaya adalah energi yang nyata dan bisa diukur. Gelap, di sisi lain, bukanlah sesuatu yang diciptakan atau memiliki substansi; gelap hanyalah kondisi saat tidak ada cahaya. Kita dapat memiliki benda penerang yang dapat memancarkan cahaya, namun tidak ada benda yang dapat memancarkan kegelapan. Demikian pula, kejahatan adalah ketiadaan kebaikan, bukan sesuatu yang diciptakan oleh Allah. Kejahatan muncul saat manusia menjauh dari terang kebaikan Allah.
Sebenarnya, hidup manusia juga digambarkan berada dalam kegelapan akibat dosa. Dosa memisahkan kita dari terang Allah. Namun, Allah mengirim Yesus Kristus sebagai terang dunia. Melalui kematian dan kebangkitan-Nya, Yesus mengalahkan kegelapan dosa, membawa kita keluar dari kegelapan menuju terang kasih dan pengampunan Allah. Hanya oleh anugerah-Nya, melalui iman kepada Kristus, kita dapat dilepaskan dari kegelapan dosa ini dan dipulihkan dalam hubungan yang benar dengan Allah.
