Jika Allah Nyata, mengapa kita tidak bisa melihat-Nya secara langsung? Bagaimana kita bisa tahu Dia ada?
Yang tidak kelihatan belum tentu tidak ada! Menganggap bahwa sesuatu harus terlihat agar bisa dipercayai adalah kesalahan. Tidak semua yang ada di dunia ini dapat dilihat atau disentuh.
Kita percaya pada hukum-hukum moral dan etika yang berlaku di berbagai budaya, semuanya itu, lahir dari dan dipengaruhi oleh hati nurani yang tidak bisa kita lihat atau pegang secara fisik. Setiap manusia memiliki kesadaran akan apa yang benar dan salah sesuai dengan pengaruh budaya atau pendidikan nya. Jika tidak ada sumber yang lebih tinggi dari manusia, moralitas kita akan relatif, berubah-ubah sesuai keinginan,maka manusia berusaha mencari standar moral dan etika yang dapat berlaku secara universal, dan semuanya itu tidak dapat dilihat atau disentuh. Sadar atau tidak sadar, hukum moral ini adalah bukti bahwa ada Pribadi yang lebih tinggi yang menetapkan apa yang benar dan salah.
Dalam sejarah, Allah menyatakan diri-Nya melalui Yesus Kristus. Yesus Kristus tidak berdosa dan menghidupi hukum Allah yang menyempurnakan hukum moral manusia dan menunjukkan bahwa Allah adalah Sumber kebenaran dan kasih, yang menjadi dasar bagi moral sejati manusia. Dia datang untuk membawa kita kembali kepada Allah, yang memberi kita pedoman moral sejati. Melalui Yesus, kita bisa mengenal Allah yang mengaruniakan standar moral sejati dalam hati kita, dan kita dapat menerima pengampunan serta hidup dalam kebenaran-Nya.
